Beritanda.net – Biasanya politisi dan wartawan saling berhadapan dalam urusan informasi, pertanyaan, dan pemberitaan. Namun, Selasa sore (3/11/2026), keduanya justru saling berhadapan di lapangan futsal. Bukan adu argumentasi atau berebut pernyataan, melainkan adu strategi, ketangkasan, dan ketajaman mencetak gol.
Duel persahabatan antara tim Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumatera Barat bersama PKS Pasaman melawan para wartawan yang tergabung dalam Pers Bersatu Tuah Saiyo (PBTS) Kabupaten Pasaman itu berlangsung sengit di Lapangan Lathifa Futsal, Lubuk Sikaping.
Meski berlabel pertandingan persahabatan, kedua kubu tak ingin menyerah begitu saja. Serangan demi serangan dilancarkan, pertahanan diuji, dan gol demi gol tercipta. Hingga peluit akhir berbunyi, tim PKS berhasil mengunci kemenangan dengan skor 5-3.
Namun, kemenangan di papan skor bukan satu-satunya cerita dari pertandingan tersebut. Di balik persaingan memperebutkan bola, terselip pesan tentang pentingnya membangun komunikasi dan mempererat silaturahmi antara politisi dan insan pers.
Ketua DPW PKS Sumatera Barat, H. Ulyadi, Lc, MA, yang turun langsung sebagai kapten tim PKS, menyebut pertandingan tersebut bukan sekadar ajang menguji kemampuan mengolah si kulit bundar.
Menurutnya, olahraga dapat menjadi ruang pertemuan yang lebih cair dan terbuka untuk memperkuat hubungan antarkalangan, termasuk antara partai politik dan wartawan.
“Melalui olahraga seperti futsal ini, kita bisa menjalin silaturahmi, berkolaborasi, bersinergi, menjaga kesehatan, sekaligus menyalurkan hobi. Kegiatan positif seperti ini perlu terus dilakukan,” ujar Ulyadi.
Kehadiran sejumlah tokoh politik dalam pertandingan itu turut menambah daya tarik laga. Ketua DPRD Kabupaten Pasaman, Nelfri Asfandi, yang juga kader PKS, ikut memperkuat tim bersama Ketua Fraksi PKS Pasaman, Dani Ismaya.
Tak sekadar meramaikan pertandingan, Nelfri bahkan berhasil menyumbangkan gol cantik bagi timnya.
Di sela kebersamaan tersebut, Nelfri mengapresiasi terselenggaranya pertandingan persahabatan yang dinilainya mampu memperkuat komunikasi dan hubungan baik.
“Terus tingkatkan silaturahmi. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan kuat. Mari kita jalin dan perkuat kebersamaan melalui kegiatan positif seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PBTS Kabupaten Pasaman, Yunzar Lubis, yang hadir langsung menyaksikan pertandingan, memandang pertemuan antara insan pers dan politisi tersebut sebagai bagian dari upaya membangun jaringan komunikasi yang lebih luas.
Menurut Yunzar, wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik membutuhkan akses informasi dari berbagai pihak. Partai politik merupakan salah satu elemen yang memiliki peran sebagai sumber informasi, terutama menyangkut dinamika politik dan kebijakan publik.
“Pers harus mampu membangun relasi dan jaringan. Partai politik merupakan bagian dari sumber informasi bagi wartawan. Pers juga harus bisa diterima di berbagai kalangan,” kata Yunzar, didampingi Wakil Ketua PBTS, Riki Hendra.
Kendati demikian, keakraban yang terbangun melalui kegiatan olahraga tentu tidak menghilangkan perbedaan peran antara kedua pihak. Politisi menjalankan aktivitas politiknya, sementara wartawan tetap mengemban tugas jurnalistik untuk menyampaikan informasi kepada publik secara independen dan profesional.
Sepanjang pertandingan, kedua tim tampil penuh semangat. Para pemain saling melancarkan serangan, mencari celah pertahanan lawan, dan berupaya menciptakan peluang gol.
Sorak-sorai penonton turut menghidupkan suasana. Setiap peluang dan gol yang tercipta menambah kemeriahan laga yang mempertemukan dua kelompok dengan latar profesi berbeda tersebut.
Tim PBTS diperkuat sejumlah wartawan, di antaranya Yunefrizal, Bambang Z, Aulia Mukhtar, Tio, Rahmad Urai, Ramzee, Nuzul, dan Jeprizal.
Sementara itu, tim PKS menurunkan H. Ulyadi, Nelfri Asfandi, Dani Ismaya, Zulhadri, serta sejumlah pemain lainnya.
Pada akhirnya, PKS memang keluar sebagai pemenang dengan skor 5-3. Namun, pertandingan tersebut meninggalkan pesan yang lebih luas: rivalitas di lapangan tidak harus menjadi sekat dalam membangun komunikasi.
Di lapangan, politisi dan wartawan boleh saling berebut bola. Tetapi di luar lapangan, komunikasi tetap perlu dijaga, tanpa mengorbankan independensi pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
(M. A)







