Beritanda.net – Perputaran anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar per hari di Kabupaten Dharmasraya menjadi peluang ekonomi besar yang tak boleh lepas dari genggaman masyarakat lokal. Petani dan peternak didorong mengambil peran sebagai pemasok utama, agar uang negara tidak sekadar berputar di daerah, tetapi benar-benar mengalir ke kantong masyarakat sendiri.
Peluang itu mulai disiapkan. Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memperkuat sektor pertanian melalui dukungan Kementerian Pertanian RI berupa 1,23 ton benih jagung hibrida Pioneer 27 dan tiga unit Traktor Roda Empat (TR4). Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal untuk meningkatkan produksi sekaligus membangun rantai pasok pangan lokal guna memenuhi kebutuhan MBG.
Bantuan diserahkan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy bersama Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani di Nagari Sitiung, Kecamatan Sitiung, Jumat (30/10/2026). Penyerahan turut disaksikan anggota DPRD Dharmasraya dari Fraksi Gerindra, Rosandi Sanjaya Putra, Teddy Waldian, dan M. Yasin.
Bantuan tersebut merupakan tindak lanjut usulan Bupati Annisa kepada Kementerian Pertanian sejak November 2025. Dalam proses pengusulannya, Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy turut mengawal hingga bantuan itu akhirnya direalisasikan.
Vasko menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
“Ini bukti bahwa Presiden Prabowo sangat cinta kepada petani. Banyak kebijakan beliau yang berpihak kepada petani. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT atas bantuan ini, mudah-mudahan ke depan ditambah lagi,” ungkap Vasko.
Namun, menurutnya, bantuan tidak boleh berhenti sebatas penyerahan alat dan benih. Seluruh fasilitas tersebut harus dimanfaatkan secara optimal agar menghasilkan peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Ia secara khusus meminta penyuluh pertanian mengawal program tersebut hingga tuntas. Mulai dari pemanfaatan bantuan, proses penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen, seluruh tahapan harus mendapat pendampingan agar hasilnya benar-benar dirasakan petani.
Program Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, tegasnya, harus berhasil dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tiga unit TR4 sendiri dialokasikan kepada tiga kelompok tani, yakni Kelompok Tani Rawang Puri yang diketuai Rusdi, Fastabikul Khairat dengan ketua Alzar Syah Putra, serta Kelompok Tani Sawah Lopo yang diketuai Firdaus.
Sementara bantuan benih jagung hibrida Pioneer 27 dialokasikan untuk 42 kelompok tani dengan total 1.515 anggota. Luas lahan yang mendapat dukungan mencapai 820 hektare, dengan total benih sebanyak 12.300 kilogram.

Jangan Biarkan Uang MBG Mengalir ke Luar Daerah
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menegaskan, program MBG harus dibaca sebagai peluang ekonomi yang mampu menggerakkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga usaha masyarakat.
Menurutnya, kebutuhan bahan baku MBG seperti telur, ikan, ayam, dan daging semestinya dapat dipasok oleh petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka pasar yang lebih luas bagi produk unggulan daerah.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebutuhan jagung untuk pakan ternak yang hingga kini masih banyak didatangkan dari luar daerah. Padahal, jagung merupakan bahan baku penting untuk menopang usaha peternakan, khususnya peternakan ayam yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pasokan pangan MBG.
“Anggaran MBG yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar per hari ini harus bisa berputar di Dharmasraya. Kita harus mempersiapkan petani dan peternak agar mampu menjadi pemasok kebutuhan program tersebut,” tegas Annisa.
Untuk itu, bantuan benih jagung seluas 820 hektare diharapkan mampu menjadi salah satu langkah konkret mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Annisa memperkirakan lahan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 5.700 ton jagung saat panen. Produksi itu diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bahan baku pakan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Tak hanya mendorong peningkatan produksi, Pemkab Dharmasraya juga menyiapkan skema penyerapan hasil panen dengan harga minimal Rp8.000 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani sehingga mereka memiliki dorongan lebih kuat untuk mengembangkan komoditas jagung.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlanjutan usaha pertanian. Karena itu, dukungan benih dan alat mesin pertanian perlu diikuti dengan pendampingan serta skema penyerapan hasil produksi yang jelas.
Ketua Kelompok Tani Rawang Puri, Rusdi, menyampaikan apresiasi atas bantuan satu unit traktor roda empat yang diterima kelompoknya. Ia berharap alat tersebut dapat mempercepat pengolahan lahan, menghemat tenaga, dan meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Dengan dukungan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, Dharmasraya kini memiliki peluang memperkuat sektor pertanian sekaligus membangun keterhubungan antara produksi jagung, usaha peternakan, dan kebutuhan pangan program MBG.
Tantangannya adalah memastikan seluruh peluang tersebut benar-benar terwujud. Sebab, besarnya perputaran anggaran MBG tidak otomatis menjamin kesejahteraan petani lokal jika produksi, kualitas, distribusi, dan kepastian penyerapan hasil belum dipersiapkan secara matang.
Di sinilah pekerjaan sesungguhnya dimulai: menjadikan petani bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pelaku utama dalam perputaran ekonomi daerah.
(Afriza Dedek)







