08:56 | 16 October 2026
beritanda
No Result
View All Result
  • Login
  • Hukrim
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Olahraga
  • Sosok
  • Loker
beritanda
No Result
View All Result
beritanda
No Result
View All Result
Home Opini

Merombak Taman Syekh Kukut, Membangun Magnet Kota Event di Solok

redaktur by redaktur
16 October 2026 | 07:50
in Opini
Reading Time: 6min read
0
Walikota Solok

Makan nasi bungkus bersama walikota Solok sambil bercengkrama, suatu ketika

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rusmel dt Sati

Jarang-jarang dapat bercengkrama dengan Wali Kota Solok dalam momen yang familiar, santai dan penuh kelakar.

Baca Juga

Fenomena Baru Kawasan Wisata Alahan Panjang Yang Merisaukan

Fenomena Baru Kawasan Wisata Alahan Panjang Yang Merisaukan

25 March 2026
Sejarah

Sejarah Perjuangan Kabupaten Karo di Masa Kemerdekaan

19 February 2026

Tempo hari, waktu panjang nan mengesankan itu saya dapatkan di penghujung seremoni pelantikan Ketua dan Pengurus PWI Kota Solok periode 2026-2029.

Kala duduk melingkar di saung balairung rumah dinas Wali Kota Solok, sembari menyantap nasi bungkus yang disediakan pengurus PWI Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra—yang saya kenal sejak masih menjadi anggota DPRD Kota Solok—seolah tak banyak berubah.

Performance dan ulahnya nyaris sama ketika ia belum menjadi orang nomor satu di Rumah Bagonjong Lubuk Sikarah. Tawanya tetap lebar. Garahnya tetap kuat. Celotehnya mengalir tanpa sekat.

Namun di balik cengkrama yang padat oleh kelakar itu, saya diam-diam menangkap sesuatu yang lain. Di antara tawa dan cerita ringan, terselip gagasan tentang bagaimana sebuah kota kecil bisa tumbuh dengan cara yang mungkin selama ini tak banyak terpikirkan.
“Kita ingin Kota Solok menjadi kota event,” tuturnya lirih.

Kalimat itu sederhana. Bahkan nyaris tenggelam di antara suara tawa dan senda gurau yang memenuhi meja makan.
Tetapi bagi saya, kalimat itu justru menjadi bagian paling menarik dari perbincangan sore itu.

Dus, jangankan saya, Ketua PWI Sumbar Widya Navies yang ikut duduk melingkar di meja makan pun tampak terkesima. Di sana juga ada Sekretaris PWI Sumbar, tokoh literasi sekaligus wartawan senior Firdaus Abi, kemudian Rommy, Wakil Ketua PWI Sumbar, dan Wandi Malin, wartawan Haluan Kota Solok.

Obrolan pun bergerak ke mana-mana. Sesekali serius, kemudian pecah menjadi gelak tawa. Istilah orang Minang, “garah kudo” berseliweran, tetapi justru dari suasana yang cair itu muncul percakapan tentang bagaimana Ramadhani bersikap setelah menjadi pejabat dan bagaimana ia tetap menjaga ruang pergaulan dengan kawan-kawan wartawan.

Di sela gurauan, ia menyelipkan misi. Seolah ingin mengatakan, bahwa menjadi pejabat tidak selalu berarti harus menciptakan jarak. Dan menjadi wartawan, dalam pandangannya, tetap membutuhkan kearifan untuk membaca setiap gagasan, bahkan ketika gagasan itu lahir dari sebuah meja makan yang penuh kelakar.

Dari situlah pembicaraan kemudian mengarah pada satu pertanyaan: jika visi besarnya adalah menjadikan Solok sebagai kota event, lalu apa yang dilakukan untuk mewujudkan misi tersebut?

Dhani—begitu Ramadhani biasa disapa—menyebut salah satu jawabannya adalah revitalisasi Taman Kota Syekh Kukut.

Sebuah keputusan yang, dalam pandangan sebagian orang, mungkin kurang populis. Tetapi bagi Ramadhani, taman kota bukan sekadar hamparan ruang terbuka dengan pepohonan dan bangku-bangku tempat orang beristirahat.

Ia membayangkannya sebagai sebuah ruang hidup.Ruang tempat anak-anak bermain, belajar, berkreasi dan mengenal literasi. Ruang tempat keluarga berkumpul. Ruang yang sekaligus menjadi wajah kota ketika orang luar datang berkunjung.

Dalam rencananya, taman kota akan ditata menjadi kawasan yang ramah anak dan memiliki nilai edukasi. Di tengahnya akan dibangun air mancur yang memungkinkan anak-anak bermain air. Di sisi lain, disiapkan sejumlah stan UMKM dan ruang pustaka.
Ada ekonomi di satu sisi. Ada pendidikan dan literasi di sisi lainnya. Keduanya dipertemukan dalam satu ruang.

“Pustaka kita bangun untuk menumbuhkan literasi anak-anak. Nama taman kota nanti kita ganti menjadi Ruang Kreativitas Budaya dan Literasi Mohammad Yamin,” ungkap Wali Kota Solok.

Nama itu kemudian memantik pertanyaan. Mengapa Mohammad Yamin? Mengapa tidak mempertahankan saja nama Syekh Kukut yang sudah begitu lama melekat dalam ingatan masyarakat?

Ramadhani punya alasan sendiri. Baginya, Mohammad Yamin bukan semata nama seorang tokoh yang tercatat dalam buku sejarah. Ia adalah intelektual, sastrawan modern, pelopor Sumpah Pemuda dan pahlawan nasional yang meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan bangsa.Dan menurutnya, nama Mohammad Yamin selama ini lebih banyak dikenal sebagai nama jalan.

“Coba di mana ada nama Moh Yamin diabadikan pada gedung atau ruang terbuka hijau. Kecuali untuk nama jalan. Apalagi beliau tokoh pejuang Nasional pula,” alasnya.

Maka, pergantian nama itu ia letakkan bukan sekadar sebagai pergantian papan nama. Ada pesan yang ingin ditanamkan.

Ada tokoh yang ingin diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui sebuah ruang publik yang mereka datangi setiap hari.

Dan ada gagasan bahwa taman kota seharusnya tidak berhenti sebagai tempat bersantai, tetapi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, kreativitas, pendidikan, literasi dan ekonomi.

Untuk membenahi taman kota tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp16,1 miliar pada 2026. Pekerjaan diperkirakan rampung pada akhir November 2026.

Angka itu tentu tidak kecil. Karena itu, wajar bila kemudian muncul pertanyaan: apa yang hendak dicapai dari pembangunan sebuah taman?

Ramadhani punya jawabannya. Solok, katanya, jika ingin menjadi kota event, membutuhkan magnet. Membutuhkan daya tarik. Membutuhkan sebuah ruang yang mampu membuat orang punya alasan untuk datang, tinggal lebih lama dan menikmati kota.

“Taman Kreasi Budaya dan Literasi Moh Yamin itulah magnetnya,” tegas Dhani.

Ia kembali menampik anggapan bahwa penamaan Mohammad Yamin berkaitan dengan latar belakang dirinya sebagai alumni Universitas Mahaputra Muhammad Yamin.

Baginya, alasan itu jauh lebih sederhana sekaligus lebih besar: ketokohan Mohammad Yamin dan perannya dalam sejarah nasional diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda.

Sebab sebuah kota, dalam bayangannya, tidak cukup hanya dibangun dengan beton, jalan dan gedung. Kota juga membutuhkan cerita. Membutuhkan ruang untuk berkumpul.Membutuhkan alasan agar orang mau datang. Dan yang paling penting, membutuhkan denyut ekonomi yang bergerak setelah orang-orang itu tiba.

Solok adalah kota kecil yang posisinya strategis. Di sekelilingnya ada nagari-nagari di Kabupaten Solok. Tidak terlalu jauh pula dari Sawahlunto, Sijunjung hingga Dharmasraya.

Jika magnet itu berhasil diciptakan, Ramadhani membayangkan arus manusia tidak berhenti di batas administratif Kota Solok.

Orang datang dari berbagai arah. Mereka datang untuk menikmati taman, membawa anak-anak bermain, membaca buku, menikmati pertunjukan, mencicipi kuliner, membeli produk UMKM, atau sekadar menghabiskan waktu di ruang publik yang nyaman. Dan di sanalah, menurut Ramadhani, efek ekonomi mulai bekerja.

“Ketika pengunjung datang, di situlah akhirnya perekonomian bergerak. Pengunjung tiba bukan sekadar singgah, tetapi dampaknya mereka berbelanja. Maka, rumus multiplier effect akan menguat,” bebernya.

Barangkali itulah cara Ramadhani melihat sebuah taman dari perspektif yang berbeda. Bukan semata taman. Bukan hanya air mancur. Bukan sekadar ruang hijau.

Tetapi sebuah simpul yang mempertemukan banyak kepentingan: anak-anak yang membutuhkan ruang bermain, remaja yang membutuhkan ruang kreativitas, masyarakat yang membutuhkan ruang publik, pelaku UMKM yang membutuhkan pasar, dan kota yang membutuhkan magnet untuk mendatangkan pengunjung.

Maka, membangun ulang Taman Kota Syekh Kukut tidak sesederhana melihat angka Rp16,1 miliar di dalam sebuah dokumen anggaran. Di baliknya ada sebuah visi yang sedang diuji.

Visi untuk membuat Kota Solok tidak sekadar menjadi kota yang dilewati, tetapi kota yang didatangi. Bukan sekadar tempat singgah, tetapi tempat orang punya alasan untuk tinggal lebih lama.

Dan mungkin, di situlah saya menemukan makna dari obrolan sore di saung balairung itu.

Di antara nasi bungkus, tawa yang lebar dan “garah kudo” yang tak putus-putus, ternyata terselip sebuah mimpi yang sedang dirajut perlahan: menjadikan Solok sebuah kota event.

Sebuah kota yang hidup bukan hanya ketika ada agenda besar, tetapi juga ketika ruang-ruang publiknya mulai dipenuhi suara anak-anak, langkah pengunjung, aktivitas pelaku usaha, buku-buku yang dibuka, dan geliat ekonomi yang tumbuh dari keramaian.

Sebab terkadang, sebuah perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari ruang rapat yang kaku.
Bisa jadi ia justru lahir dari sebuah meja makan sederhana, dari percakapan yang santai, dan dari seorang wali kota yang masih bisa tertawa lepas bersama kawan-kawan lamanya. (*)

Tags: Kota SolokMagnet Kota EventMembangunMerombakTaman Syejh Kukut
SendShareTweet

BeritaTerkait

Fenomena Baru Kawasan Wisata Alahan Panjang Yang Merisaukan

Fenomena Baru Kawasan Wisata Alahan Panjang Yang Merisaukan

25 March 2026
Sejarah

Sejarah Perjuangan Kabupaten Karo di Masa Kemerdekaan

19 February 2026

Kebebasan Pers Bukan Tameng Kebal Hukum

14 January 2026

POPULAR

Barang bukti

Empat Paket Sabu Disita, Pemuda 22 Tahun Diciduk Polres Solok di Lembang Jaya

10 October 2026
Cenderamata

Wushu Kabupaten Solok Menggila di Porprov XVI, 8 Emas Antar ke Puncak Juara

10 October 2026
Karate

Sport Hall Batu Tupang Jadi Arena Adu Prestasi 357 Karateka se-Sumbar

10 October 2026
Indo Jalito Peduli

Di Tengah Puing Galodo Arosuka, Indo Jalito Peduli Hadir Membawa Harapan

12 October 2026
Cabor Taekwondo

Pecah Kebuntuan Sejak 2000, Taekwondo Kota Solok Menggila dengan Raihan 5 Emas!

9 October 2026

About

Beritanda.net merupakan media online yang lahir dan dibesarkan oleh kami yang sejak awal berkerja sebagai Jurnalis dibawah kendali perusahan PT. Beritanda1 Media Siber.

Follow us

Categories

  • Agama
  • Blog
  • Daerah
  • Entertaimen
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Loker
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Politik
  • Regional
  • Sosial Budaya
  • Sosok
  • WEBTORIAL

Recent Posts

  • Merombak Taman Syekh Kukut, Membangun Magnet Kota Event di Solok
  • Bibit Jagung PT CMK Dilepas ke Makasar, Bupati Solok Garap 2.300 Hektare untuk Genjot Ekonomi Daerah
  • Perkuat Transformasi Digital, Dharmasraya Matangkan Penggunaan SRIKANDI hingga Pemberkasan Arsip
  • Kabut Asap Ancam Kesehatan Siswa, Dharmasraya Kerahkan 15 Puskesmas Bagikan Masker
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Copyright 2026 beritanda.net - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Hukrim
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Olahraga
  • Sosok
  • Loker

Copyright 2026 beritanda.net - All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In