Beritanda.net – Bencana boleh meninggalkan lumpur, batu, rumah rusak, dan kenangan pahit. Namun, bagi warga yang terdampak galodo di Arosuka, Kabupaten Solok, ada satu hal yang membuat mereka tetap kuat: kepedulian yang datang dari sesama.
Manakala masa tanggap darurat tahap kedua resmi berakhir, belasan perempuan dari Indo Jalito Peduli (IJP) hadir di tengah masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan, Senin (12/10/2026). Mereka datang bukan sekadar membawa paket bantuan, melainkan juga menyampaikan pesan bahwa warga Arosuka tidak sendirian menghadapi musibah.
Di Masjid Raya Kayu Aro, rombongan yang dipimpin Ketua IJP Astri Asghani bersama Emma Yohana itu disambut Wakil Bupati Solok, H. Candra. Pertemuan berlangsung dalam suasana keprihatinan, tetapi juga menyimpan kehangatan: kepedulian yang mempertemukan mereka yang datang membantu dengan warga yang tengah berusaha bangkit.
Bagi sebagian orang, bantuan mungkin hanya berupa barang yang dapat dibawa pulang. Namun, bagi warga yang rumah dan lingkungannya terdampak galodo, perhatian semacam itu memiliki makna lebih dalam. Ada perasaan bahwa di tengah kehilangan dan kesulitan, masih banyak orang yang mengingat mereka.
“Sebagai bentuk kecintaan kepada saudara kita di kampung, kami datang menjenguk sembari mengantarkan bantuan yang diperlukan,” ujar Astri.
Kalimat itu sederhana. Tetapi, di tengah suasana pascabencana, kepedulian yang lahir dari ikatan persaudaraan dan kampung halaman menjadi penguat bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit.

Bantuan Menjadi Penguat Hati
Bantuan IJP disalurkan secara langsung di tiga lokasi berbeda. Rombongan menemui warga terdampak, menyerahkan bantuan, sekaligus menyampaikan dukungan moral kepada masyarakat yang masih berupaya menata kembali kehidupan mereka.
Di antara warga penerima bantuan, seorang ibu tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia bersyukur karena perhatian terhadap korban galodo terus berdatangan dari berbagai kalangan.
“Kami takjub dan bersyukur, banyak yang peduli terhadap musibah yang kami alami. Terima kasih IJP, ternyata kami tidak sendiri menghadapi bencana ini,” tuturnya sembari menerima paket bantuan.
Ungkapan itu menjadi potret kecil dari besarnya arti solidaritas. Di tengah kerusakan yang belum seluruhnya tertangani, perhatian orang lain dapat menjadi sumber kekuatan untuk kembali melangkah.
Sebab, pemulihan setelah bencana bukan hanya tentang membersihkan material yang menimbun kawasan atau memperbaiki bangunan yang rusak. Ada kehidupan yang harus ditata kembali, ada rasa kehilangan yang perlu dipulihkan, dan ada keyakinan yang harus terus dijaga agar masyarakat tidak larut dalam kesedihan.

Galodo Meninggalkan Luka Besar
Banjir bandang yang menerjang kawasan Arosuka pada 21 September 2026 meninggalkan dampak yang tidak ringan. Dua warga meninggal dunia, 84 rumah terdampak, dan 12 gedung perkantoran dilanda galodo. Dari belasan gedung tersebut, enam di antaranya mengalami kerusakan berat.
Wakil Bupati Solok H. Candra menyampaikan bahwa kerusakan yang ditimbulkan bencana tersebut membutuhkan penanganan serius dan dukungan berkelanjutan.
“Dua orang warga meninggal karena banjir bandang. Sebanyak 84 rumah terdampak galodo, mulai dari rusak berat, sedang, hingga rusak ringan. Kemudian, 12 gedung kantor juga dilanda galodo, enam di antaranya rusak berat,” ungkap Candra.
Kerugian akibat bencana itu ditaksir mencapai Rp512 miliar. Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan yang harus dituntaskan untuk memulihkan kawasan terdampak dan mengembalikan kehidupan masyarakat secara bertahap.
Berakhirnya masa tanggap darurat tahap kedua bukan berarti perjuangan telah selesai. Pemkab Solok langsung menyatakan masa masa transisi pemulihan Pascabencana selama enam bulan ke depan.
Di lapangan, pembersihan material dan normalisasi sungai masih berlangsung. Pemerintah Kabupaten Solok bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, dan unsur terkait terus bekerja menangani dampak galodo.
Sebanyak 21 unit alat berat dikerahkan untuk mendukung pembersihan material serta normalisasi sungai di sisi kompleks Kantor Bupati Solok.
“Kita bersama warga terdampak bencana berterima kasih karena IJP telah menjenguk Solok dalam kondisi berduka. Hari ini ibu-ibu IJP datang persis pada hari terakhir masa tanggap darurat kedua,” kata Candra.
Kunjungan IJP pada hari terakhir masa tanggap darurat menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak semestinya berhenti ketika status kedaruratan berakhir. Justru setelah perhatian publik mulai beralih, warga masih membutuhkan dukungan untuk melewati proses pemulihan yang panjang.

Dari Perantau untuk Kampung Halaman
Bagi Astri Asghani, kepedulian terhadap masyarakat bukanlah kegiatan yang baru dilakukan ketika bencana datang. Selama bertahun-tahun, kegiatan sosial telah menjadi bagian dari perjalanan IJP, organisasi perempuan perantau Minangkabau yang terus berupaya membantu masyarakat di Sumatera Barat.
Astri, putri mantan Bupati Solok era 1960-an, Ashghani Marah Sutan, menyebutkan bahwa IJP secara rutin menggelar aksi sosial di berbagai daerah.
“Sekurangnya tiga kali setahun IJP melakukan aksi sosial di seluruh wilayah Sumbar. Selain mengantarkan bantuan, kita juga menyantuni anak yatim dan melakukan bedah rumah bagi warga kurang mampu,” ungkapnya.
Ia mengatakan telah sekitar 25 tahun mengurus IJP. Dalam rentang waktu tersebut, kegiatan sosial dan kemanusiaan menjadi salah satu jalan untuk menjaga kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Bagi masyarakat Minangkabau, hubungan dengan kampung halaman tidak selalu dibatasi oleh jarak. Ikatan itu dapat tetap terjaga melalui perhatian, kebersamaan, dan tindakan nyata ketika saudara di kampung menghadapi kesulitan.
Kehadiran IJP di Arosuka menjadi salah satu gambaran ikatan tersebut. Mereka datang ketika masyarakat sedang berduka, membawa bantuan sekaligus menyampaikan bahwa kampung halaman tetap memiliki tempat di hati para perantau.
Di balik pekerjaan pemulihan yang masih berlangsung, Kabupaten Solok juga menghadapi kebutuhan mitigasi untuk mengurangi risiko bencana serupa. Candra menyebutkan, pemerintah daerah membutuhkan pembangunan tiga unit sabo dam yang direncanakan berada di bagian hulu, tengah, dan bawah aliran sungai.
“Kerugian ditaksir mencapai Rp511 miliar. Sejalan dengan normalisasi, kita juga membutuhkan pembangunan tiga unit sabo dam guna mengantisipasi bencana serupa. Sabo dam dibangun di bagian hulu, tengah, dan bawah aliran sungai,” jelasnya.
Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa upaya bangkit tidak cukup hanya dengan membersihkan sisa bencana. Perbaikan infrastruktur, penanganan kawasan rawan, dan langkah pengurangan risiko juga diperlukan agar masyarakat lebih kuat membangun harapan.
(Irman Kuto)







