Beritanda.net – Jurus demi jurus warisan leluhur Minangkabau memukau masyarakat yang memadati Lapangan Merdeka Kota Solok, Senin (12/10/2026) malam. Sebanyak 30 sasaran Silek Tuo tampil memperagakan kepiawaian mereka, menghadirkan perpaduan gerak, ketangkasan, filosofi adat, dan nilai spiritual dalam rangkaian Rang Solok Baralek Gadang (RSBG) 2026.
Di tengah kemeriahan festival budaya tersebut, para pesilat dari berbagai kelompok usia memperlihatkan kekhasan aliran silek masing-masing. Gerakan yang tampak halus dan terukur menyimpan ketangkasan bela diri yang tidak bisa dipisahkan dari filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Pertunjukan seni bela diri tradisional itu disaksikan langsung Wali Kota Solok Ramadhani Kirana Putra, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Daswipetra, Dt. Manjinjiang Alam, Ketua DPRD Kota Solok Fauzi Rusli, Ketua LKAAM Kota Solok H. Rusli Kh. Suleman, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur niniak mamak.

Sebelum pertunjukan dimulai, kegiatan diawali dengan prosesi badatuak, salah satu bagian dari tradisi adat Minangkabau yang mengandung makna budaya. Prosesi tersebut menjadi pembuka bagi penampilan para pesilat yang membawa warisan tradisi dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Minangkabau, Silek Tuo bukan semata-mata seni bela diri. Di balik setiap gerakan, tersimpan nilai adat, etika, pengendalian diri, serta ajaran tentang bagaimana seseorang menempatkan diri di tengah masyarakat. Ketangkasan fisik berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Antusiasme masyarakat yang memadati Lapangan Merdeka menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern. Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara generasi tua yang menjaga warisan silek dan generasi muda yang diharapkan meneruskan keberlangsungannya.
Wali Kota Solok Ramadhani Kirana Putra berharap tradisi Silek Tuo terus dilestarikan dan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Minangkabau.

Menurutnya, keberadaan Silek Tuo perlu dijaga agar nilai-nilai adat dan tradisi yang terkandung di dalamnya tidak terputus oleh perkembangan zaman. Selain menjadi warisan budaya, seni bela diri tradisional tersebut juga berpotensi memperkuat daya tarik wisata budaya Kota Solok.
Melalui perhelatan Rang Solok Baralek Gadang, pemerintah daerah bersama masyarakat memiliki kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Minangkabau kepada khalayak yang lebih luas.
Penampilan 30 sasaran Silek Tuo malam itu menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan sebuah festival, ada warisan leluhur yang perlu terus dirawat. Sebab, melestarikan silek bukan hanya mempertahankan gerakan bela diri, melainkan juga (Irman Kuto)







