Beritanda.net – Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, kini tak lagi sekadar identik dengan aktivitas olahraga. Car Free Day (CFD) kembali menjadi ruang publik yang hidup, mempertemukan olahraga, seni, edukasi, layanan kesehatan hingga geliat ekonomi masyarakat.
Suasana berbeda terlihat pada Minggu pagi (20/9/2026). Di tengah aktivitas warga yang berolahraga dan menikmati suasana bebas kendaraan, berbagai kegiatan turut mengisi kawasan CFD.
Pentas seni dan kreativitas pelajar menjadi salah satu magnet perhatian. Sejumlah generasi muda tampil di hadapan masyarakat dengan beragam pertunjukan, sekaligus menjadikan CFD sebagai panggung terbuka untuk menyalurkan bakat dan kreativitas.
Tak hanya hiburan, masyarakat juga mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Pengunjung dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan sekaligus memperoleh informasi kesehatan dalam suasana yang santai dan terbuka.

Geliat ekonomi masyarakat pun ikut terasa. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memanfaatkan keramaian CFD dengan menghadirkan beragam produk dan jajanan. Aktivitas tersebut membuat denyut perekonomian warga berjalan beriringan dengan olahraga dan rekreasi.
Bagi anak-anak, CFD juga menghadirkan pilihan aktivitas yang tak kalah menarik. Taman bacaan keliling hadir membawa beragam bahan bacaan, membuka ruang bagi anak-anak untuk membaca dan belajar sambil menikmati suasana Minggu pagi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan, Drs. Syamsurizaldi, mengatakan keberagaman aktivitas yang hadir dalam CFD menunjukkan bahwa ruang publik tersebut dapat memberikan manfaat bagi berbagai kelompok masyarakat.
Menurutnya, CFD tidak hanya menjadi tempat untuk berolahraga, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang interaksi, kreativitas, edukasi, pelayanan publik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan semakin beragamnya kegiatan yang hadir, CFD Padang Aro perlahan tumbuh menjadi ruang bersama. Tempat masyarakat tidak hanya bergerak dan berolahraga, tetapi juga bertemu, berkarya, belajar, menikmati hiburan dan menggerakkan perekonomian.
Minggu pagi pun terasa lebih hidup—ketika ruang publik benar-benar menjadi milik semua.
(Irman Kuto)






