Beritanda.net – Gagasan besar yang dibungkus dalam program One Village One Product (OVOP) telah dilaunching Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, bersama dengan seminar pembangunan ekonomi berbasis nagari, Senin (19/1/2026) di gedung Auditorium daerah setempat.
Mengiringi launching, Bupati Annisa menjelaska, bahwa gagasan OVOP lahir dari realitas ekonomi Dharmasraya yang selama ini masih sangat bergantung pada pasokan komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan dari luar daerah. Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, belanja komoditas pangan dan bahan baku tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp600 miliar per tahun yang mengalir ke daerah lain.
“Selama ini uang sebesar ratusan miliar rupiah keluar dari Dharmasraya karena kita membeli kebutuhan pangan dari luar. OVOP hadir untuk membalik keadaan, agar belanja itu diserap oleh pelaku usaha lokal dan berputar di nagari-nagari kita sendiri,” ujar Annisa.

Ia menegaskan, Dharmasraya sejatinya memiliki seluruh potensi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mulai dari lahan pertanian yang luas, jaringan irigasi yang direncanakan mampu mengairi hingga 18 ribu hektare sawah, kawasan perikanan air tawar yang produktif, hingga peternakan rakyat yang tersebar di berbagai nagari.
Selain itu, sumber daya manusia Dharmasraya dinilai telah terbiasa hidup dari sektor agraris dan siap dikembangkan melalui sistem yang lebih terintegrasi.
Hadir pada kesempatan, Wakil Bupati Dharmasraya, Leliarni, Forkopimda, Dandim 0310/SSD Letkol CZI Joko Stradona, Kapolres AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro, Kajari Dharmasraya diwakili Kasi Datun, Teguh Prayogi, Anggota DPRD Dharmasraya Pasdisata Dt Kabilangan, Pk Sekda Jasman, mantan Bupati Dharmasraya Periode 2005-2010, H. Marlon Martua Situmeang Dt, Rangkayo Mulieh, beserta narasumber dari kalangan akademisi, praktisi ekonomi, perbankan, dan pelaku UMKM.

Peluang MBG
Bupati Annisa merasa optimistis, karena ke depan dirinya melihat peluang besar dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Dharmasraya, diperkirakan akan beroperasi sekitar 28 dapur MBG dengan total 84 ribu penerima manfaat.
Kebutuhan pangan dari program ini mencapai sekitar 1,68 juta porsi atau senilai Rp16,8 miliar per bulan. Jika kebutuhan tersebut dipenuhi dari luar daerah, maka potensi perputaran uang hingga Rp840 juta per hari tidak akan dinikmati masyarakat setempat.
Melalui ekosistem OVOP, masyarakat nagari ditempatkan sebagai penggerak utama ekonomi. Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator, pendamping, dan penjamin keberlanjutan melalui bantuan modal, sarana produksi, serta pendampingan teknis. Setiap kelompok usaha rakyat diwajibkan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dan perjanjian kerja sama agar produksi berjalan berkelanjutan dan memiliki kepastian pasar.
Dalam paparannya, Annisa juga menegaskan pentingnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam ekosistem OVOP. Pemerintah daerah menyiapkan pembangunan pabrik pakan lokal untuk menekan biaya produksi peternakan, serta Rice Milling Unit (RMU) modern guna meningkatkan nilai tambah hasil pertanian padi dan memutus ketergantungan petani pada tengkulak.
Kegiatan launching dan seminar OVOP mengusung tema “Penggerak Ekonomi Kerakyatan Menuju Dharmasraya Sejahtera Merata”, menghadirkan Narasumber Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE, MA (Pakar Ekonomi Universitas Andalas), Two Efly, SE (penulis dan wartawan senior Padang Ekspres), Ir. Djoni (Founder Dangau Inspirasi), Aris Aria Samudra, SP (Bankir Bank Nagari), serta Heryanda Ade Sagita, A.Md (pelaku UMKM sukses). Seminar dipandu oleh Yudha Prima, S.STP, M.Si dari Bappeda Provinsi Sumbar sebagai moderator.
Bupati Annisa menaruh harapan, melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, perbankan, dan pelaku usaha, program OVOP akan mampu menyerap belanja komoditas daerah yang selama ini keluar hingga ratusan miliar rupiah, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan semangat Dari Nagari untuk Dunia, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya optimistis OVOP akan menjadi fondasi kuat menuju kemandirian ekonomi, swasembada pangan, dan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
(Afriza Dedek)






