Beritanda.net – Nagari Supayang, kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok tidak hanya menyimpan kekayaan alam, lebih mengejutkan karena juga berpotensi besar dalam budidaya Madu Galo-Galo, sejenis hewan serangga khas daerah itu yang ramah lingkungan.
Belakangan banyak petani Lebah Madu bergerak dalam produksi madu Galo Galo, karena hasilnya dinilai cukup menjanjikan secara ekonomis.
Salah seorang pelaku usaha madu galo galo di nagari yang juga dikenal mengandung emas alam itu adalah
Asferi Ardiyanto, yang sudah menjalani usaha ini beberapa tahun terakhir.
Menurut Asferi, usaha Madu Galo-Galo yang digerakkannya sejauh ini sudah berkembang, yang ditandai dengan legalitas produksi seperti Izin NIB dari Pemkab Solok, izin edar Dinkes PIRP tetmasuk Sertifikasi halal.
” Kita mengusahakan produksi Madu Galo-Galo dengan perusahaan peternakan Assaad bee Farm. Sejauh ini jumlah koloni Galo-Galo ada sekitar 100-an, dengan hasil Madu perbulan sebanyak 40 liter,” ungkap Asferi Ardiyanto di Supayang, Minggu (9/11).

Setentang pemasaran yang kerap menjadi kendala banyak pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah), Asferi mengaku tidak rumit-rumit amat, karena penjualannya langsung menyasar konsumen dan Reseler di Sumatera Barat dan Jawa dengan sistem online.
Sejauh ini, usaha budidaya Madu Galo-Galo di Supayang tidak hanya dilakukan oleh Asferi Ardiyanto, tetapi juga ditekuni beberapa orang petani lainnya, diantaranya Satria , Pak Ed dan M. Yusuf.
Kendati tidak menyebutnya sebagai kendala untuk pengembangan usaha, tetapi Asferi mengakui ada tantangan untuk bagaimana produksi Madu Galo-Galo Supayang lebih dipromosikan dengan harga jual yang menguntungkan bagi petani.
” Para petani usaha madu galo galo bahkan berharap adanya semacam pelatihan tentang ternak yang baik sekaligus promosi sebagai spirit dari Pemerintah Daerah,” pintanya penuh harap.
(Irman Kuto)






