Beritanda.net – Memasuki 10 malam terakhir Ramadan 1447 H, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar menggelar kegiatan I’tikaf Eksekutif bagi pejabat Eselon II dan III, Jumat (13/3/2026) malam di Masjid Nurul Amin Pagaruyung.
I’tikaf Eksekutif ini dilaksanakan guna meningkatkan nilai spiritual sekaligus memperkuat kebersamaan aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Terhadap itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Tanah Datar Abdurrahman Hadi selaku panitia pelaksana menyampaikan, kegiatan i’tikaf tersebut merupakan lanjutan dari program yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya.
“I’tikaf ini dinilai mampu meningkatkan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan para pejabat, sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan i’tikaf diikuti oleh 29 Pejabat Tinggi Pratama setingkat Eselon II dan sekitar 150 Pejabat Administrator setingkat Eselon III.
“Kita berharap pada malam-malam terakhir Ramadan ini dapat meraih keistimewaan, termasuk malam Lailatul Qadar. Setelah ini akan dilaksanakan tadarus, kajian keagamaan, serta ibadah mandiri hingga sahur,” tambahnya.

Peroleh Keberkahan.
Sementara itu, Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly mengajak seluruh umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan i’tikaf di masjid serta memperbanyak doa agar memperoleh keberkahan.
Menurutnya, Ramadan memiliki keutamaan yang terbagi dalam tiga fase, yakni sepuluh hari pertama penuh rahmat, sepuluh hari kedua penuh ampunan, dan sepuluh hari terakhir merupakan momentum pembebasan dari api neraka.
“Sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi waktu yang sangat istimewa untuk meningkatkan ibadah, termasuk i’tikaf, agar kita dapat meraih keberkahan serta menemukan malam Lailatul Qadar,” ujarnya.
Pada kesempatan, Wabup Ahmad Fadly juga menyinggung kondisi Kabupaten Tanah Datar yang dalam dua tahun terakhir, yakni 2024 hingga 2025, menghadapi berbagai bencana alam besar.
Ia menilai musibah tersebut dapat dimaknai sebagai ujian dari Allah SWT, namun diyakini setiap cobaan diberikan sesuai dengan kemampuan umat untuk menghadapinya.
“Dalam dua tahun terakhir daerah kita dilanda bencana besar. Ini bisa menjadi ujian dari Allah SWT, namun kita harus yakin bahwa setiap cobaan tidak akan diberikan di luar kemampuan kita,” katanya.
Ia berharap setiap ujian yang terjadi dapat menjadi bahan introspeksi bagi seluruh masyarakat, sehingga setiap peristiwa dapat diambil hikmahnya dan menjadi motivasi untuk memperbaiki diri.
“Kita harus berpikir positif. Setiap cobaan pasti memiliki hikmah. Mari jadikan ujian ini sebagai momentum untuk bermuhasabah dan menjadi pribadi yang lebih baik ke depan,” tambahnya.
Kegiatan i’tikaf diawali dengan tadarus Al-Qur’an yang dipandu H. Zulhelmi, dilanjutkan pengajian tasawuf oleh Buya Zauhamdi Kerajaan Nan Shaleh. Setelah itu, peserta melaksanakan ibadah mandiri, sahur bersama, serta salat Subuh berjamaah, dan ditutup dengan kultum oleh H. Afrizon.
(Irfan)






