Beritanda.net – Dua hari berlaga di arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 akhirnya ditutup dengan catatan membanggakan bagi kontingen Gulat Kabupaten Solok. Meski berada dalam fase transisi dan alih generasi, para pegulat muda Kabupaten Solok mampu menunjukkan bahwa tradisi prestasi di atas matras belum berakhir.
Seluruh pertandingan cabang olahraga (cabor) gulat yang digelar di G Sport Centre Kota Padang, rampung, Rabu (7/10/2026). Kontingen Gulat Kabupaten Solok pun meninggalkan arena dengan kepala tegak dan membawa pulang 12 medali, terdiri dari 2 emas, 5 perak dan 5 perunggu.
Kepulangan tim pada Kamis (8/10/2026), sekaligus membawa sebuah pesan penting bagi pembinaan gulat Kabupaten Solok: regenerasi yang selama ini dilakukan mulai memperlihatkan hasil.
Pelatih Gulat Kabupaten Solok, Nazarwin Aze, mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas perjuangan anak-anak asuhnya. Menurutnya, capaian tersebut menjadi sesuatu yang patut diapresiasi karena sebagian besar atlet yang tampil pada Porprov kali ini merupakan wajah baru yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet prestasi para senior.
“Kita bangga karena atlet yang berlaga di Porprov XVI Sumbar tahun ini merupakan wajah baru yang cukup potensial. Anak-anak bisa berprestasi karena hasil dari latihan keras dan penggemblengan total,” ujar Aze dihadapan official dan atlet senior Heru dan Gilang yang telah bermertamorfosa menjadi pelatih.
Kebanggaan itu menjadi semakin berarti karena gulat Kabupaten Solok saat ini sedang berada dalam fase pergantian generasi.
Jika menengok ke belakang, Gulat Kabupaten Solok pernah mencapai prestasi luar biasa pada Porprov 2018 dengan membukukan 18 medali emas. Namun, waktu terus berjalan. Atlet-atlet yang ketika itu menjadi kekuatan utama perlahan memasuki usia yang tidak lagi memungkinkan untuk terus berada di arena kompetisi. Sebagian lainnya juga telah disibukkan pekerjaan dan aktivitas kehidupan di luar olahraga.
Kondisi tersebut secara otomatis membuat wajah tim gulat Kabupaten Solok berubah.

Para pegulat yang dahulu menjadi tumpuan mulai berganti dengan atlet-atlet muda yang masih harus ditempa. Di titik inilah tantangan terbesar pembinaan muncul: bagaimana mempertahankan tradisi prestasi ketika generasi emas sebelumnya sudah tidak lagi mendominasi arena.
Namun, Porprov XVI Sumbar 2026 justru memberikan jawaban yang cukup meyakinkan.
Dari 35 nomor yang dipertandingkan, atlet Gulat Kabupaten Solok turun pada 21 nomor. Hasilnya, dua keping emas berhasil dibawa pulang. Prestasi tersebut belum menyamai catatan 18 emas pada 2018, tetapi bagi tim pelatih, capaian kali ini memiliki makna yang tidak kalah penting.
Sebab, emas tersebut lahir dari generasi yang sedang dibentuk.
Dua medali emas Kabupaten Solok masing-masing dipersembahkan Rayhan Ramadhan dari kelas junior 53 kilogram gaya bebas putra dan Farel Wira Pratama dari kelas junior 48 kilogram gaya bebas putra.
Keduanya menjadi gambaran bahwa masa depan gulat Kabupaten Solok mulai menunjukkan cahaya.
Sementara itu, lima medali perak diraih Annurha pada kelas senior 53 kilogram gaya bebas putra, Nadira Maila Kifli pada kelas senior 57 kilogram gaya bebas putri, Suci Andini pada kelas senior 62 kilogram gaya bebas putri, Randa Febriandi pada kelas senior 57 kilogram gaya bebas putra, serta Randi Febrianda pada kelas senior 55 kilogram grego roman.
Lima medali perunggu masing-masing disumbangkan Muhammad Fachry Fahreza pada kelas junior 60 kilogram gaya bebas putra, Virza Adithya pada kelas kadet 80 kilogram gaya bebas putra, Hamzi Ruwanda Saputra pada kelas junior 45 kilogram gaya bebas putra, Alung Sara Gara Lelana pada kelas senior 48 kilogram grego roman, dan Natasya Grasyela Putri pada kelas senior 50 kilogram gaya bebas putri.
Deretan nama tersebut bukan sekadar daftar peraih medali. Mereka adalah bagian dari proses panjang untuk mengisi kembali kekuatan Gulat Kabupaten Solok setelah sejumlah atlet senior meninggalkan arena karena faktor usia maupun pekerjaan.
Aze, yang sebelumnya juga dikenal sebagai pelatih yang melahirkan atlet-atlet gulat nasional seperti Heru Fernandez dan Gilang, melihat potensi besar dari para atlet muda tersebut.
Menurutnya, keberhasilan mereka di Porprov kali ini merupakan modal penting untuk pembinaan ke depan. Mereka masih memiliki banyak ruang untuk berkembang, baik dari sisi teknik, fisik maupun mental bertanding.
Karena itu, capaian Porprov XVI tidak hanya diukur dari jumlah emas yang dibawa pulang. Ada ukuran lain yang jauh lebih panjang, yakni seberapa siap generasi baru menggantikan generasi sebelumnya.

Dan dari arena G-Sport Centre Gunung Panggilun, tanda-tanda itu mulai terlihat.
Para pegulat muda Kabupaten Solok telah menunjukkan keberanian untuk tampil, bertarung dan bersaing dengan atlet dari daerah lain. Mereka mungkin belum memiliki pengalaman panjang seperti para seniornya, tetapi mereka sudah mulai memiliki sesuatu yang sangat penting: mental juara dan pengalaman bertanding.
Bagi atlet-atlet muda tersebut, prestasi para senior di Porprov 2018 bukan sekadar cerita masa lalu. Justru menjadi tantangan untuk meneruskan nama besar Gulat Kabupaten Solok.
Dulu, 18 emas menjadi simbol kekuatan gulat Kabupaten Solok. Kini, ketika sebagian besar atlet peraih prestasi itu telah berganti, sebuah generasi baru sedang disiapkan untuk menulis cerita mereka sendiri.
Dua emas dan total 12 medali pada Porprov XVI mungkin belum menjadi pengulangan kejayaan 2018. Namun, di balik angka tersebut tersimpan optimisme besar bahwa estafet prestasi tidak terputus.
Sebab, dalam olahraga, kejayaan tidak selalu diwariskan dalam bentuk medali. Ia diwariskan melalui latihan, disiplin, mental bertanding dan keberanian generasi berikutnya untuk berdiri di atas matras.
Dan anak-anak muda inilah yang kini menjadi cahaya baru Gulat Kabupaten Solok.
Dengan pembinaan yang konsisten, jam terbang yang terus bertambah dan dukungan terhadap regenerasi, bukan tidak mungkin dari wajah-wajah muda yang tampil di Porprov 2026 inilah kelak lahir kembali pegulat-pegulat yang membawa nama Kabupaten Solok hingga ke tingkat nasional.
Estafet itu kini berada di tangan mereka. (rusmel)







