15:42 | 14 January 2026
beritanda
No Result
View All Result
  • Login
  • Hukrim
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Olahraga
  • Sosok
  • Loker
beritanda
No Result
View All Result
beritanda
No Result
View All Result
Home Opini

Kebebasan Pers Bukan Tameng Kebal Hukum

redaktur by redaktur
14 January 2026 | 12:09
in Opini
0
Penulis

Penulis: Wandi Malin

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Kebebasan Pers Bukan Tameng Kebal Hukum

Oleh : Wandi Malin
(Wartawan Haluan)

Baca Juga

No Content Available

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers kerap dijadikan dalih pembenaran oleh sebagian insan pers ketika produk jurnalistiknya menuai protes atau bahkan menimbulkan kerugian serius bagi orang lain. Frasa “kemerdekaan pers” sering dipahami secara simplistis (sederhana) seolah-olah memberi hak absolut kepada wartawan dan perusahaan pers untuk menulis apa saja, dengan cara apa saja, tanpa konsekuensi hukum. Padahal, sejak awal undang-undang ini lahir, kebebasan pers tidak pernah dimaksudkan sebagai kebebasan tanpa batas.

Pers bukan super body. Wartawan bukan pula warga negara kelas satu yang kebal hukum. Kemerdekaan pers justru disertai tanggung jawab etik dan profesional yang ketat, yang dirumuskan secara eksplisit dalam Kode Etik Jurnalistik. Ketika kode etik dilanggar, maka pers tidak hanya berhadapan dengan koreksi moral, tetapi juga berpotensi masuk ke ranah hukum.

Masalah muncul ketika sebagian media terutama media daring yang tidak terverifikasi Dewan Pers, menyajikan berita tanpa verifikasi memadai, mencampuradukkan fakta dan opini, bahkan menghakimi subjek pemberitaan. Dengan judul sensasional, diksi yang menghakimi, serta pengabaian asas praduga tak bersalah menjadi praktik yang makin jamak. Ironisnya, ketika pihak yang dirugikan melayangkan keberatan, UU Pers segera diangkat sebagai tameng.

Padahal, Pasal 5 UU Pers secara tegas mewajibkan pers untuk menghormati norma agama, kesusilaan, dan asas praduga tak bersalah. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam KEJ, antara lain larangan menyiarkan berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul, kewajiban melakukan verifikasi serta keharusan memberikan hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Di Sumatera Barat, persoalan ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, keluhan masyarakat terhadap pemberitaan media khususnya media daring terus meningkat. Mulai dari judul yang menghakimi, pemberitaan perkara hukum yang belum inkrah, hingga pengungkapan identitas pribadi tanpa relevansi kepentingan publik. Ketika diprotes, jawaban yang muncul hampir selalu sama. Ini produk jurnalistik, dilindungi UU Pers.

Logika semacam itu keliru sejak awal. Berkali-kali Dewan Pers menegaskan, pasal 5 UU Pers secara tegas mewajibkan pers menghormati asas praduga tak bersalah dan melayani hak jawab. Kewajiban ini bukan pelengkap, melainkan inti dari kemerdekaan pers itu sendiri. Tanpa tanggung jawab, kebebasan berubah menjadi kesewenang-wenangan, bahkan kadang kala disertai dengan pemerasan.

Banyak pengaduan ke Dewan Pers berangkat dari pelanggaran prinsip-prinsip dasar tersebut. Salah satu pola yang sering terjadi adalah pemberitaan perkara hukum yang masih dalam tahap penyelidikan atau penyidikan, namun sudah disajikan seolah-olah kesalahan subjek telah terbukti. Nama lengkap ditulis, foto ditampilkan, bahkan latar belakang pribadi diungkap tanpa relevansi kepentingan publik. Dalam sejumlah putusan Dewan Pers, praktik semacam ini dinyatakan melanggar KEJ karena mengabaikan asas praduga tak bersalah dan tidak berimbang.

Ada pula kasus di mana media menolak memuat hak jawab, atau memuatnya secara tidak setara, diletakkan di bagian bawah, dipelintir, atau disertai catatan redaksi yang justru memperkuat tuduhan awal. Dewan Pers berulang kali menegaskan bahwa hak jawab bukanlah bentuk kebaikan hati redaksi, melainkan kewajiban hukum dan etik.

Contoh lain adalah penggunaan narasumber anonim tanpa alasan yang sah. KEJ memperbolehkan narasumber anonim hanya dalam kondisi tertentu, dengan syarat wartawan mengetahui identitasnya dan informasinya relevan serta dapat diverifikasi. Namun dalam praktik, anonimitas kerap dijadikan jalan pintas untuk memuat tudingan serius tanpa tanggung jawab. Ketika dipersoalkan, lagi-lagi kebebasan pers dijadikan alasan pembenar.

Perlu dipahami, mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers bukanlah bentuk kekebalan hukum, melainkan lex specialis yang bertujuan menjaga profesionalisme pers sekaligus melindungi masyarakat. Jika sebuah media terbukti bukan perusahaan pers yang sah, tidak terverifikasi, tidak memiliki struktur redaksi, dan tidak tunduk pada KEJ, maka dalih UU Pers menjadi gugur. Dalam kondisi demikian, sengketa dapat beralih ke ranah pidana atau perdata sebagaimana warga negara lainnya.

Sejumlah kasus menunjukkan bahwa ketika rekomendasi Dewan Pers diabaikan misalnya kewajiban meminta maaf atau memuat klarifikasi pihak yang dirugikan memilih menempuh jalur hukum. Ini menegaskan bahwa etik dan hukum bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Pelanggaran etik yang serius dan berdampak nyata dapat berujung pada pertanggungjawaban hukum.

Pers yang sehat tidak lahir dari kebebasan yang liar, melainkan dari disiplin etik yang kuat. Wartawan yang profesional tidak takut pada koreksi, apalagi pada mekanisme akuntabilitas. Justru dengan mematuhi kode etik, pers menjaga marwahnya sendiri sebagai pilar demokrasi.

Sungguh, mengkritik kekuasaan adalah tugas mulia pers. Namun, merusak nama baik seseorang tanpa dasar yang sah bukanlah kerja jurnalistik, melainkan penyalahgunaan kebebasan. Di titik inilah publik perlu terus diingatkan bahwa UU Pers bukan perisai kebal hukum, melainkan kontrak sosial antara pers dan masyarakat. Artinya, kebebasan ditukar dengan tanggung jawab.

Jika kontrak itu dilanggar, maka wajar bila pers diminta bertanggung jawab secara etik, dan bila perlu, secara hukum. Begitu benarlah.**

Tags: Bukan TamengKebal HukumKebebasan PersOpini
SendShareTweet

BeritaTerkait

No Content Available

POPULAR

Patroli

Aktif Patroli Siang, Petugas Polsek Hiliran Gumanti Sampaikan Pesan Kamtibmas Hingga ke Rumah Warga

7 January 2026
Paripurna

Puncak Peringatan HUT ke-22 Dharmasraya, Bupati Annisa Sampaikan Progres Pembangunan 2025 Dihadapan Sidang Paripurna DPRD

7 January 2026
Dharmasraya

Perjalanan 22 Tahun Kabupaten Dharmasraya, Bupati Annisa Beberkan Lompatan Pembangunan

6 January 2026
Tinjau

BWS Sumatera V Siapkan 50 Unit Alat Berat, Gubernur Sumbar Minta Segera Turunkan untuk Normalisasi Pendangkalan Sungai  

7 January 2026
Bupati Annisa

Bercengkrama dengan Wartawan, Bupati Annisa Tumpahkan Tantangan dan Harapan untuk Kemajuan Dharmasraya  

7 January 2026

About

Beritanda.net merupakan media online yang lahir dan dibesarkan oleh kami yang sejak awal berkerja sebagai Jurnalis dibawah kendali perusahan PT. Beritanda1 Media Siber.

Follow us

Categories

  • Blog
  • Daerah
  • Hukrim
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Regional
  • Sosok
  • WEBTORIAL

Recent Posts

  • Kebebasan Pers Bukan Tameng Kebal Hukum
  • Perkuat Rencana Revitalisasi Pasar Serikat C Batusangkar, Bupati Eka Putra Sambangi Dirjen PDN Kemendag RI
  • Ikuti Rakor dengan Mendagri dan Kepala BNPB, Wabup Ahmad Fadly Minta Tambahan Huntara di Tanah Datar
  • Mendagri Tito Karnavian Dorong Kepala Daerah Manfaatkan Program Nasional 300 Ribu Jembatan Gantung
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Copyright 2024 beritanda.net - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Hukrim
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Daerah
  • Olahraga
  • Sosok
  • Loker

Copyright 2024 beritanda.net - All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In