Beritanda.net – Duka akibat banjir bandang (galodo) yang melanda kawasan Arosuka dan sekitarnya pada 21 September 2026 turut dirasakan masyarakat Kota Solok.
Sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap masyarakat Kabupaten Solok yang tengah menghadapi dampak bencana, Pemerintah Kota Solok bersama lembaga adat memutuskan menunda pelaksanaan Rang Solok Baralek Gadang (RSBG).
Kegiatan yang semula dijadwalkan berlangsung pada 3 Oktober 2026 tersebut dijadwalkan kembali pada 10 hingga 13 Oktober 2026.
Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra, mengatakan keputusan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat Kota Solok terhadap dunsanak di Arosuka yang sedang menghadapi musibah.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, pada 21 September 2026 lalu keluarga kita di Arosuka dan sekitarnya mendapatkan musibah galodo. Untuk itu, pelaksanaan Rang Solok Baralek Gadang yang awalnya direncanakan pada 3 Oktober kita tunda menjadi 10 sampai 13 Oktober 2026,” ujar Ramadhani.
Menurutnya, penundaan tersebut bukan berarti mengurangi makna maupun semangat pelaksanaan RSBG. Sebaliknya, keputusan itu menjadi bentuk penghormatan terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.
Pada pelaksanaan tahun ini, Rang Solok Baralek Gadang mengangkat tema “Rang Solok Baralek Gadang, Bangkit Bersama Arosuka.”
Tema tersebut sekaligus menjadi pesan solidaritas dan dukungan moral masyarakat Kota Solok kepada masyarakat Arosuka yang terdampak bencana.
“Tema tahun ini adalah Rang Solok Baralek Gadang, Bangkit Bersama Arosuka. Ini merupakan bentuk empati kita bersama untuk mendukung dunsanak-dunsanak kita yang tertimpa musibah galodo,” katanya.
Ramadhani juga mengajak masyarakat Kota Solok serta masyarakat dari 13 nagari yang tergabung dalam Kubuang XIII, baik yang berada di wilayah Kabupaten Solok maupun Kota Solok, untuk bersama-sama menyukseskan kegiatan tersebut.
“Marilah kita sukseskan bersama. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, silaturahmi dan kepedulian sesama masyarakat Solok,” ujarnya.

Dukungan terhadap penundaan kegiatan tersebut juga disampaikan lembaga adat Kota Solok.
Ketua LKAAM Kota Solok H. Rusli Tuan Malin Maharajo, Ketua Kerapatan Adat Nagari Solok Nofrizal Tuan Malin Pono, serta Ketua Bundo Kanduang Kota Solok Sitta Novembra menyampaikan bahwa musibah galodo di kawasan Arosuka merupakan duka bersama.
Menurut lembaga adat, hubungan masyarakat Kota Solok dan Kabupaten Solok tidak hanya terikat oleh kedekatan wilayah, tetapi juga oleh hubungan sejarah, adat dan sosial yang telah terjalin sejak lama.
“Dengan terjadinya musibah banjir bandang atau galodo di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, tentu kita di Solok turut berduka cita atas kejadian tersebut. Kota Solok dan Kabupaten Solok merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.
Karena itu, penundaan Rang Solok Baralek Gadang dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana sekaligus wujud kepedulian dan solidaritas antarsesama.
DPRD Sambut Baik Penundaan
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Solok Fauzi Rusli, SE., MM., menyambut baik keputusan penundaan pelaksanaan Rang Solok Baralek Gadang.
Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat setelah bencana galodo yang melanda kawasan Arosuka.
Ia berharap pelaksanaan RSBG pada 10–13 Oktober 2026 nantinya dapat menjadi momentum untuk semakin memperkuat solidaritas dan kebersamaan masyarakat Solok.
Melalui tema “RSBG Bangkit Bersama Arosuka”, Rang Solok Baralek Gadang diharapkan tidak hanya menjadi agenda kebudayaan dan silaturahmi, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan serta semangat persaudaraan bagi masyarakat Kota Solok, Kabupaten Solok, dan seluruh keluarga besar Kubuang XIII.
Dengan penjadwalan kembali tersebut, seluruh rangkaian kegiatan diharapkan dapat dipersiapkan secara matang sehingga berlangsung tertib, lancar, sekaligus tetap membawa semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
(Wahyu Haryadi)







