Beritanda.net – Ada kerinduan yang tak selesai hanya dengan sepiring nasi. Ada pula kerinduan yang justru membawa seseorang pulang ke tanah kelahiran, lalu menanam mimpi di atas belasan hektare lahan.
Begitulah kisah Jamaludin.
Kecintaannya pada durian, buah yang kerap dijuluki King of Fruit, bermula dari sebuah pengalaman sederhana di tanah rantau. Tinggal dan menjalankan berbagai lini usaha di Kota Solo, Jawa Tengah, Jamaludin justru kerap dibuat kecewa setiap kali ingin menikmati durian.
Bukan karena tak mampu membeli, tetapi karena buah yang diburunya sering lebih dahulu habis disapu tingginya permintaan.
Dari rasa kecewa itulah sebuah gagasan tumbuh.
Mengapa harus terus mencari durian ke sana-kemari jika di tanah kelahiran sendiri bisa dibangun kebun yang menghasilkan buah berkualitas?
Pertanyaan sederhana itu kemudian membawa Jamaludin pulang.
Di Taruko, Nagari Sirukam, Kabupaten Solok—tepat sebelum Kantor Camat Payung Sekaki—ia membangun sebuah kebun durian yang kelak diproyeksikan bukan sekadar sebagai perkebunan, tetapi juga destinasi wisata agro.
Namanya Kebun Durian Taruko.
Kawasan seluas kurang lebih 16 hektare itu kini mulai memperlihatkan wajah masa depannya. Sebanyak 250 batang pohon durian unggulan tumbuh berjajar di tengah bentang alam yang hijau. Bibitnya didatangkan khusus dari Pulau Jawa, dipilih untuk mengejar kualitas pertumbuhan sekaligus mutu buah yang dihasilkan.
Dan kini, penantian itu mulai berbuah.
Sejumlah pohon telah memasuki fase pembuahan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah menghasilkan buah matang yang siap dipetik.
Bagi pencinta durian, pemandangan semacam ini tentu bukan sekadar pemandangan kebun.
Ini adalah godaan.

Aroma khas buah matang, daging buah yang lembut, rasa manis yang melekat di lidah, dan sensasi menikmati durian langsung dari pohonnya menjadi pengalaman yang ingin ditawarkan Kebun Durian Taruko.
Apalagi, kebun ini tidak bermain-main dengan varietas.
Musang King hadir dengan tekstur yang lembut dan cita rasa manis legit. Bawor menawarkan daging buah yang tebal. Duri Hitam atau Black Thorn membawa karakter eksotisnya sendiri. Sementara Super Tembaga menjadi salah satu varietas yang diburu para kolektor durian.
Namun, Jamaludin tampaknya tidak ingin berhenti pada urusan buah.
Ia sedang menanam sebuah konsep.
Kebun Durian Taruko diproyeksikan menjadi kawasan agrowisata terpadu. Pengunjung nantinya tidak hanya datang, membeli durian, lalu pulang. Mereka akan diberi ruang untuk menikmati suasana kebun, beristirahat, bahkan menginap.
Fasilitas tempat istirahat dan area penginapan disiapkan untuk menjawab kebutuhan konsumen, terutama mereka yang datang dari luar daerah.
Konsepnya dibuat menyatu dengan alam.
Bayangkan menghabiskan waktu di tengah hamparan kebun yang hijau, jauh dari hiruk-pikuk kota, kemudian menikmati durian segar yang baru dipetik dari pohonnya.
Bukan sekadar wisata rasa, tetapi juga pengalaman.
Di titik inilah Kebun Durian Taruko memiliki cerita yang lebih besar daripada sekadar perkebunan.
Ada mimpi seorang perantau yang ingin membawa sesuatu dari tanah rantau kembali ke kampung halaman. Ada kecintaan terhadap durian yang berubah menjadi investasi. Dan ada harapan agar kebun tersebut kelak ikut membuka pintu ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Jamaludin, perantau asal Nagari Supayang yang kini sukses menjalankan berbagai usaha di Solo, memilih menanam modal sekaligus harapan di kampung sendiri.
Ia tidak sekadar membeli lahan dan menanam pohon. Ia menanam gagasan bahwa tanah kampung halaman juga bisa melahirkan sesuatu yang bernilai tinggi, bahkan menjadi tujuan orang dari luar daerah.
Belasan hektare lahan itu perlahan dipersiapkan menjadi ruang pertemuan antara pertanian, kuliner dan pariwisata.
Jika konsep tersebut berkembang sesuai rencana, Kebun Durian Taruko bukan tidak mungkin menjadi salah satu wajah baru wisata agro Kabupaten Solok. Sebab, kekuatan tempat ini bukan hanya pada Musang King, Bawor, Duri Hitam atau Super Tembaga.
Kekuatan sesungguhnya terletak pada cerita di baliknya.
Cerita tentang seorang perantau yang pernah kecewa karena kehabisan durian, lalu memilih pulang untuk memastikan orang lain tidak mengalami kekecewaan yang sama.
Dari keresahan kecil di Kota Solo, lahirlah mimpi besar di Taruko.
Dan ketika pohon-pohon itu mulai berbuah, yang sedang dipanen Jamaludin barangkali bukan hanya durian. Melainkan juga sebuah harapan: bahwa suatu hari nanti, orang datang ke Kabupaten Solok bukan sekadar untuk mencari pemandangan, tetapi juga untuk berburu rasa—dan menemukan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali.
Kebun Durian Taruko pun bersiap membuka babak baru. Babak ketika durian tidak hanya menjadi buah yang diburu, tetapi menjadi alasan orang datang, tinggal lebih lama, menikmati alam, dan mengenal lebih dekat wajah Kabupaten Solok.
(Irman Kuto)






