Beritanda.net – Pemerintah Kota Payakumbuh mempercepat penemuan kasus tuberkulosis (TB) menyusul capaian deteksi hingga Juli 2026 yang baru mencapai 25,9 persen, jauh di bawah target 55,4 persen.
Percepatan dilakukan melalui skrining kontak pasien yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 36 lokus pada Agustus hingga November 2026. Program ini melibatkan puskesmas, rumah sakit, kecamatan, kelurahan, Bhabinkamtibmas, TP-PKK, hingga masyarakat.
Mewakili Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, Asisten I Nofriwandi mengatakan percepatan penemuan kasus menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai penularan TB di tengah masyarakat.
“Penanggulangan TB tidak cukup hanya menemukan pasien. Kita harus memastikan pasien menjalani pengobatan sampai sembuh dan memeriksa orang yang memiliki kontak erat,” kata Nofriwandi saat membuka Rapat Koordinasi Penanggulangan dan Penemuan Kasus TB di Emersia Hotel Batusangkar, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, pelacakan kontak tidak boleh hanya menyasar anggota keluarga pasien, tetapi juga lingkungan yang berpotensi menjadi tempat penularan, seperti sekolah, perkantoran, asrama, dan komunitas.
Nofriwandi juga meminta camat, lurah, dan Bhabinkamtibmas berperan aktif dalam memastikan pasien menjalani pengobatan secara disiplin serta mendorong kontak erat untuk mengikuti pemeriksaan.
“TB bisa disembuhkan dan pengobatannya diberikan gratis oleh pemerintah. Jangan ada pasien yang berhenti berobat dan jangan ada stigma yang membuat pasien enggan menjalani pengobatan,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh Ny. Eni Zulmaeta. Ia mengatakan TP-PKK siap menggerakkan kader dan keluarga untuk mendorong pemeriksaan dini, mendampingi pasien selama menjalani pengobatan, sekaligus mencegah stigma terhadap penderita TB.
“TP-PKK siap menggerakkan kader dan masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan keluarga. Jangan takut memeriksakan diri dan mari dukung pasien TB agar berobat sampai sembuh,” kata Eni.
Ia juga mengajak kader PKK di 47 kelurahan berkolaborasi dengan puskesmas dan berbagai unsur masyarakat untuk menyukseskan pelaksanaan skrining TB yang terintegrasi dengan program CKG.
“Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pengobatan diberikan. Mari bersama-sama memutus rantai penularan TB dan mendukung eliminasi TB di Kota Payakumbuh pada 2030,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Yanti mengatakan rapat koordinasi tersebut digelar untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mempercepat penemuan kasus, pelacakan kontak, serta memastikan keberhasilan pengobatan pasien TB.
“Skrining TB terintegrasi CKG berlangsung Agustus-November 2026 di 36 lokus. Dukungan camat, lurah, TP-PKK, Bhabinkamtibmas, puskesmas, dan masyarakat sangat menentukan keberhasilannya,” kata Yanti.
Pemko Payakumbuh juga mengapresiasi pembentukan Kelurahan Siaga TB di 47 kelurahan. Keberadaan kelurahan siaga tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya pencegahan, penemuan kasus, pelacakan kontak, hingga pendampingan pasien TB.
Rapat koordinasi tersebut turut menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Aklima, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vivi Leswary, Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Fitria Nazmi, serta Kepala Puskesmas Lampasi Hasnelidawati yang memaparkan praktik baik penanggulangan TB.
Yanti menegaskan, keberhasilan eliminasi TB tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Salam TOSS TB, Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis. Kita ingin seluruh unsur bergerak bersama agar rantai penularan TB terputus dan eliminasi TB pada 2030 dapat kita wujudkan,” pungkasnya.
(Diko Rahmad)







