Tangkal Banjir Solok: Audit Kawasan Hulu, Reboisasi Jajaran Bukit Barisan
Beritanda.net – Empat ruas sungai besar yang menjadi sumber kehidupan di Solok, seperti Batang Lembang, Batang Gawan dan Sungai Paninggahan dan Saniangbaka, tiba-tiba mengamuk.
Seolah memuntahkan “amarahnya” dalam sepekan terakhir. Puncak luapan air akhirnya mengepung sejumlah kawasan di Kecamatan Kubung, Kota Solok, Kecamatan Singakrak dan Junjung Sirih, pada Kamis (27/11) ini.
Sejumlah warga yang terdampak banjir mengatakan, banjir besar yang mengancam pemukiman penduduk itu hanya membawa sedimen lumpur dan potongan kayu kecil-kecil. “Tidak ada kayu gelondongan dibawa banjir. Jadi gejala pembalakan liar di hulu sungai hampir tidak ada. Mungkin bekas tebangan orang berladang,”jelas salah seorang warga setempat.
Namun demikian, tokoh masyarakat Kabupaten Solok Mevrizal,SH,MH menilai, banjir yang terjadi Batang Gawan dan Sungai Paninggahan tetap harus dilihat sebagai akibat dari kerentanan lingkungan yang semakin parah.
“ Potongan kayu memang tidak banyak, tetapi indikasi adanya aktivitas pembalakan, baik ilegal maupun pembukaan lahan tanpa kaidah konservasi, tetap harus diwaspadai,” ujar putra nagari Cupak itu,Jumat (28/11) melalui.
Untuk mencegah kejadian serupa, kata Mevrial, Pemerintah Kabupaten Solok bersama aparat penegak hukum (APH), harus segera melakukan audit kawasan hulu, memastikan tidak ada praktik ilegal, serta menegakkan hukum tanpa kompromi.
Mevrizal menyebut, rehabilitasi daerah tangkapan air dan penguatan pengawasan oleh nagari Salayo dan paninggahan juga menjadi langkah kunci.
“Bencana ini adalah peringatan bahwa tata kelola lingkungan harus dipertegas agar keselamatan masyarakat tidak terus dikorbankan. Tiok taun banjir sae, iko sae nan tibo,” ucapnya.

Senada, pemerhati lingkungan yang juga tokoh masyarakat asal Gantung Ciri, Dr. Adli menyebut, kalau dulu memang terjadi pembalakan liar, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi kayu di bagian hulu.
Dr. Adli yang juga praktisi agriculture ini menilai, banjir solok terjadi lebih akibat kerusakan jajaran bukit barisan. Ia melihat, yang paling parah terjadi di sepanjang jalur dari Sukarami, Gantung Ciri, Koto Hilalang, Saning Bakar, Muaro Pingai, dan Paninggahan sampai ke Malalo. “Kawasan itu satu jalur bagian timur bukit Barisan,”ujarnya
Tokoh masyarakat itu mengatakan, kalau ingin banjir tidak terjadi lagi dimasa depan, kuncinya sejajaran Bukit Barisan di Solok harus di tanam ulang kayu penghijauan. Lakukan reboisasi.
“Kalau tidak, lihatlah tahun-tahun ke depan, bencana serupa akan berulang,”ingatnya.
Tidak hanya solusi, Dr. Adli bahkan berencana akan mempelopori menanam 5 juta aren se Sumatera Barat, yang bibitnya disemai sendiri awal tahun 2026 ini.
(Zul Muncak)






