Beritanda.net – Kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, mendadak menjadi ramai sejak sepekan terakhir, menyusul terjadinya fenomena sinkhole atau tanah berlubang
Atas peristiwa itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Limapuluh Kota dan instansi terkait langsung melakukan pemantauan serta kajian lanjutan guna memastikan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian sinkhole.
Sinkhole tersebut diketahui muncul secara tiba-tiba pada Minggu (4/1/2025) pekan lalu, di lahan persawahan milik warga bernama Adrolmios (61).
Kejadian itu pertama kali diketahui setelah terdengar suara bergemuruh menyerupai ledakan, disusul tanah yang telah retak akibat kemarau amblas, hingga membentuk lubang berisi air dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter.
Merespons peristiwa itu, aparat kepolisian bersama BPBD Kabupaten Limapuluh Kota telah memasang garis pengaman di sekitar Lokasi sinkhole.
Terhadap itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy juga mendatangi lokasi guna menyaksikan langsung tanah berlubang yang digenangi air tersebut.
Dihadapan warga yang mengerumuni lokasi sinkhole, Wagub Vasko menegaskan tidak disarankan untuk mengkosumsi air secara langsung.
Kata Vasko, berdasarkan hasil kajian awal Badan Geologi dan pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes), kualitas air menunjukkan kandungan bakteri yang cukup tinggi.
“Dari sisi pH-nya, air ini berada di bawah 6,5. Jadi kalau bisa tolong jangan diminum. Ibaratnya seperti air di sungai pada umumnya,” kata Vasko, Minggu (11/1/2026), di Situjuah Batua.
Ia berharap, penjelasan tersebut dapat menjadi pedoman bagi masyarakat sekitar agar tidak keliru memanfaatkan air dari lokasi sinkhole.
Vasko juga menekankan bahwa fenomena ini murni proses alam dan tidak berkaitan dengan hal-hal mistis maupun klaim penyembuhan penyakit. Ia meminta masyarakat tidak mempercayai anggapan air tersebut memiliki khasiat kesehatan tertentu.
“Tidak ada air ini untuk menyembuhkan penyakit atau demi kesehatan. Itu tidak ada,” ujarnya.

Selain itu, Wagub mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi batas pengamanan yang telah ditetapkan.
Untuk sementara, jarak aman dari bibir lubang sinkhole minimal 50 meter, mengingat kondisi tanah masih berpotensi mengalami amblasan lanjutan. Pembatasan ini dilakukan demi mencegah risiko kecelakaan.
Vasko menjelaskan, dari hasil perhitungan cepat, secara kimia kandungan total zat terlarut (TDS) dan besi (Fe) masih tergolong aman. Namun, tingginya kandungan bakteri e-Coli menjadi faktor utama yang membuat air tersebut tidak layak dikonsumsi tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Jika terpaksa digunakan, air harus dimasak terlebih dahulu.
Kajian lebih mendalam juga masih terus dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar bersama Badan Geologi.
Hasil kajian komprehensif tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis yang diserahkan kepada Bupati Limapuluh Kota untuk menentukan kebijakan lanjutan terkait pemanfaatan dan pengamanan kawasan.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Sumbar, Helmi, menyampaikan, bahwa Badan Geologi telah melakukan studi lapangan selama beberapa hari terakhir.
Namun, untuk memastikan penyebab amblasan secara menyeluruh, masih dibutuhkan peralatan tambahan serta dukungan logistik guna menunjang kajian ilmiah yang lebih detail.
Meski rasa penasaran warga cukup tinggi, pembatasan tetap diberlakukan karena suara dentuman dari dalam lubang sinkhole masih terdengar, menandakan proses amblasan belum sepenuhnya berhenti dan berisiko menimbulkan longsor susulan.
(Ismardi/*)







