Beritanda.net – Pasca bencana banjir besar melanda wilayah Kabupaten Solok, meninggalkan kondisi pahit bagi masyarakat terdampak di nagari Muaro Pingai dan Paninggahan di Kecamatan Junjung Sirih.
Akibat dua nagari tersebut terisolasi karena akses jalan putus, membuat mobilitas distribusi logistik dan bantuan menjadi stagnan terkendalan masalah transportasi.
Pemandangan miris terpantau di Dermaga Singkarak, Sabtu (29/11/25), ketika sejumlah warga Junjung Sirih dihadapkan dengan kendala transportasi melalui jalur danau Singkarak.
Tumpukan bantuan dari perantau untuk warga Paninggahan dan Muaro Pingai sampai siang masih menunggu proses distribusi dengan penyeberangan menggunakan sampan nelayan yang membutuhkan perjuangan ekstra untuk sampai ke lokasi.
Ketua Pemuda Muaro Pingai, Candra, menaruh harapan agar bagaimana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok bisa membantu alat transportasi berupa boat yang relative besar untuk melansir bantuan perantau hingga ke Muaro Pingai dan Paninggahan.
“Kita terkendala kapal atau motor boat pengangkut bantuan ke seberang,”ujar Candra yang menanti solusi atas kendala yang dihadapi, Sabtu (29/11/25) di Dermaga Singkarak.
Sejauh ini, Candra mengaku, untuk mengangkut bantuan sembako bantuan perantau dari Dermaga Singkarak ke Muaro Pingai dan Paninggahan, pihaknya telah melansir perahu mesin milik nelayan.
“Sudah beberapa kali kami melansir perahu mesin nelayan. Biayanya mahal. Sekali jalan butuh BBM sebanyak Rp 200.000 sekali jalan,”jelasnya.
Sementara bantuan dari perantau berupa sembako dan air mineral cukup lebih dari 4 mobil pick-up L300. Pengiriman sudah dilakukan bolak-balik dengan kapasitas perahu manual milik nelayan dengan jarak tempuh 2 jam dari Singkarak.
Saat bersamaan, bantuan dari Baznas Kabupaten Solok yang diantarkan salah seorang staf melalui jalur Dermaga Singkarak, juga terkendala transportasi penyeberangan, sehingga bantuan untuk warga terdampak di Junjung Sirih masih menumbuk karena terkendala biaya penyeberangan.
Atas kondisi itu, para relawan kecamatan Junjung Sirih berharap supaya Pemkab Solok mencarikan solusi dengan membantu kapal yang besar.
Sementara itu, Salah seorang warga Paninggahan menyebut, bahan kebutuhan masarakat sudah menipis karena kendaraan tidak bisa masuk ke nagari akibat jembatan hanyut dan putus di Muaro Pingai dan Paninggahan.
“Bahan harian seperti Cabai merah saja sekarang harganya sudah mencapai Rp 150.000 sekilo,” ujar Eri Datuak.
Disisi lain, salah seorang warga yang memiliki fasilitas spedbood pribadi tlah membantu untuk mengakut sembako dari Dermaga Singkarak ke Jujungan Sirih dengan kebutuhan biaya sebesar 20 liter BBM jenis pertalt pulang-pergi.

Data Sementara
Sementara itu, Camat Junjung Siriah Neni Amelia sebelumnya melaporkan kondisi sementara nagari Muaro Pingai dan Paninggahan.
Jumlah warga terdampak di Nagari Muaro Pingai sebanyak 300 KK dan Nagari Paninggahan sebanyak 600 KK.
Camat Junjung Sirih memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir ini, namun 3 orang warga Paninggahan mengalami luka terkena Pohon Kelapa Tumbang di Cacang Subarang.
Neni menyebut, rumah dan bangunan rusak di Paninggahan 60 rumah dan Muaro Pingai 50 rumah. Kemudian fasilitas umum yang rusak, berupa jembatan Muaro Pingai hanyut 1 unit dan jembatan milik Provinsi 1 mengalami rusak berat, Jembatan MTI dan Jembatan Ondoh di Subarang, jembatan gantung Sawah Liek Jorong Gando rusak berat, hingga akses menjadi terhambat.
Poskesri hanyut, SDN 01 Rusak berat dan Jembatan Kapalo Banda Irigasi 11 buah rusak, sedangkan lading dan sawah rusak di Paninggahan 400 hektar, di Muaro Pingai 50 Hektar.
“Jumlah warga terdampak yang mengungsi di Paninggahan 250 KK, di Muaro Pingai sebanyak 250 KK, Kita telah membentuk 6 Posko serta Dapur Umum di Paninggahan di SDN 04 di Gando, Rumah Gadang Gantiang, Cacang, Batua, Lapau Kasiek dan Ondoh,”ungkapnya.
(Zul Muncak)






